Kategori
Tak Berkategori

Tidak Sepenuhnya Sepakat

Mungkin telah kau dengar atau kau baca ungkapan, “Menulis adalah bekerja untuk keabadian” ungkapan yang dinisbatkan pada Pramoedya Ananta Toer ini tidak sepenuhnya salah dan tidak sepenuhnya benar juga. tergantung dari persepsi mana kita melihatanya. Yang salah adalah ketika ungkapan ini hanya dijadikan sebagai ukuran satu-satunya untuk menjadi kekal dan abadi hingga para penganut madzhab ini begitu bersemangat untuk menulis dan tanpa mengindahkan apa yang ditulis atau kontent tulisan.

Padahal kalau saja kita mau mengamati tokoh-tokoh besar yang melegenda dan abadi, tidak sedikit keabadian mereka bukan dari tulisan. Kau lihat misalnya Jendral Soedirman. Namanya abadi dan jasanya terasa. Sukarno, Hatta, Imam Bonjol dan sederet pahlawan yang kita punya. Semua dari mereka hampir keabadiannya bukan dari tulisan.

Betul memang, menulis bisa mengantarkan penulisnya pada keabadian tapi ia bukan satu-satunya jalan hingga selain penulis seolah tidak akan bisa abadi. Bahkan Kanjeng Nabi Muhammad SAW yang tidak ada keraguan padanya akan keabadiannya bukanlah orang yang menulis dan membaca. seorang yang ummiy yang hingga hari ini abadi dengan ajaran dan prestasi kebaikanya. Bahkan ada seorang yang menuliskan di kaca belakang mobilnya, “Dia tak punya akun facebook, tak punya akun IG, Tweeter juga youtube. Tapi hari ini jumlah followernya mencapai lebih dari 2 miliyar. Ungkapannya dilike, dishare di mana-mana. Bahkan diterjemahkan dan ditafsirkan”.

Dari mulai fans sampai hatternya, semuanya punya perhatian ke sosok muliya ini. Menuliskan sisi kehidupannya dari bermacam arah, menyanjungnya dan memujinya dalam bentuk prosa atau lirik syari. Bagi para pembencinya, perhatian mereka diluapkan dalam distorsi sejarah dan menuduhnya dengan tuduhan-tuduhan keji. Semuanya, baik fans atau hatternya punya perhatian yang tidak sedikit yang membuaynya kekal abadi.

Dan salah satu pesan beliau tentang keabadian manusia adalah tiga perkara yang akan tetap mengalir tanpa putus setelah kematian orang tersebut, yaitu :

  1. Amal jariah
  2. Ilmu yang bermanfaat
  3. Anak shalih yang mendoakan

Tiga perkara inilah yang seharusnya menjadi motivasi kita jika ingin abadi. Menulis hanya sebagai salah satu sarana kecil untuk hinggap di salah satu dari tiga hal yang dipesankan oleh Kanjeng Nabi SAW itu. Tapi ya ngga papa juga ketika ungkapan Pramoedya ini menjadi motivasi untuk semangat menulis. Boleh dan tidak berdosa insya Allah.

Tiga perkara ini, kalau boleh saya sematkan, itu ada pada sosok kyai kita Romo Yai Masruri Abdul Mughni Rahimahullah. Amal jariah yang beliau berikan, hingga hari ini masih menjadiakannya abadi. Pahala akan terus mengalir untuknya karena tanah dan bangungan-bangunag menjulang tinggi yang ada di pondoknya tidak lain adalah berkah dari kepemimpinan Abah Masrur Rahimahullah. Anak-anak yang shalih juga beliau punya yang hari ini sedang mengagantikan peran beliau dalam berkhidmah kepada pondok. Ilmu yang bermanfaat, sangat jelas sekali ribuan santri yang tersebar dari berbagai macam daerah yang sekarang sudah berkiprah di masayarakat bahkan tidak sedikit yang juga mendirikan pondok dan lembaga pendidikan lainnya. Semuanya itu adalah tiga perkara yang membuat Abah Masrur Rahimahullah abadi. Sekarang beliau sedang menikmati apa yang telah ditanam di dunia. Semoga aku termsuk santrinya yang diridhai dan bisa meniru kebaikan-kebaikan seperti beliau.

Lihatkah, kau. keabadaian terus menempel pada Abah Masrur Rahimahullah meskipun beliau tidak menulis. Peninggalan beruapa amal shalihlah yang membuat beliau kekal abadi. Terakhir, selalulah meminta pertolangan pada Allah dan jangan lemah!

Facebook Comments

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *