ODON, One Day One Note

Adalah sebuah muhawalah (usaha) untuk membiasakan menulis satu catatan tiap harinya. Catatan yang dimaksud di sini adalah catatan yang berparagraf, bukan seperti memo yang hanya beberapa garis. Ia harus mengandung ide dan gagasan, pesan yang harus tersampaikan.

Tentang penamaan odon ini, saya terinspirasi dari gerakah tilawah alqur’an yang tiap hari minimal baca satu jus. Mereka menamakan dengan ODOJ (One Day One Juz) yang jika benar-benar sukses, paling tidak tiap satu bulan sekali bisa menghatamkan alqur’an. Berangkat dari gerakan ini, muhawalahku ini saya namakan dengan ODON (One Day One Note) sehari satu catatan.

Namun apakah iya, satu hari bisa menulis satu catatan berparagraf-paragraf dan mengandung ide dan gagasan?

Jawaban pertanyaan ini tentu akan berbeda dari satu orang ke orang lainnya. Bagi si kutu buku, ia akan sangat mudah menuangkan isi kepalanya dalam bentuk tulisan. Ia yang suka membaca memiliki perbendaharaan kata dalam tempurung otaknya. Ia bisa berkomunikasi dengan dirinya sendiri, dengan akal pikirannya sendiri. Menyampaikan sebuah ide dalam bentuk tulisan seolah ia sedang mengisi seminar atau bercerita atau berceramah. Meski secara teori kelihatannya mudah, namun tidak sedikit orang-orang yang gila membaca enggan untuk menulis. Keengganan untuk menulis ini sebenarnya karena kurang dibiasakan. Idenya sangat melimpah, tapi ketika mau ditaburkan dalam bentuk tulisan terkadang terhambat karena memang tidak biasa menuliskan sesuatu. Maka sejatinya hubungan antara menulis dan membaca adalah hubungan yang saling menguatkan. Penulis yang baik adalah pembaca yang baik. Meskipun terkadang ada juga para penulis yang mempunyai jargon, dulu saya membaca untuk menulis tapi sekarang menulis untuk membaca. Dua-duanya tidaklah salah dan benar. Tergantung dari sisi mana kita melihatnya. Kalau menurutku, yang paling baik adalah membaca untuk menulis. Yang artinya, aktivitas menulis ini haruslah lahir dari aktivitas membaca. Sebab jika menulis yang didahulukan, maka akan sangat terlihat sekali sususan bahasa yang kaku. Ia masih sangat terpengaruh dengan bahasa-bahasa penulis lain yang ia ambil dari buku yang dibacanya.

Berbeda misalnya jika didahului dengan kegemaran membaca. Bahkan ia sudah menjadi candu. Maka dengan jam terbang membaca yang sangat banyak ini, secara otomatis otak kita akan mengarahkan pada suatu pola gaya bahasa khas yang kita miliki. Ia akumulasi dari berbagai jenis gaya bahasa dari buku yang dibaca.

Maka membiasakan diri untuk selalu menulis, hendaknya sudah dimulai sejak dini. Bahkan dalam sebuah artikel disebutkan, menulis bisa menjadi terapi untuk sebuah penyakit. Kalau kita mau merenungi aktivitas menulis ini, maka akan ada banyak anggota tubuh yang terlibat dalam menuliskan sebuah ide. Tangan, mata, pikiran dan yang lainnya jelas bersatu padu untuk menghasilkan sebuah ide. Rasa juga ikut berpartisipasai. Bahkan salah seorang adek kelas di al azhar yang sekarang sudah menulis beberapa buku, dalam salah satu status di fbnya, menyebutkan bahwa setelah menulis menjadi aktivitas wajib bahkan ia seperti makanan, jika satu hari tidak menulis ia merasakan seolah ada sesuatu yang kurang dalam hidupnya. Jika sampai maghrib belum juga menuliskan sesuatu, ia kemudian akan bertanya-tanya apa gerangan yang menyebabkan dirinya belum juga menuliskan ide. Biasanya memang karena ia belum membaca sebuah buku atau belum menemukan ide untuk dituangkan. Maka setiap harinya dua aktivitas membaca dan menulis ini seperti bergandeng tangan saling mendukung.

Selain temanku yang satu ini, orang lain yang saya ingin menirunya dalam konsisten menulis adalah Pak Dahlan Iskan. Setiap hari, sebelum subuh ia selalu menuliskan sebuah catatan. Bahkan FP beliau dinamakan Catatan Dahlan Iskan. Beliau menuliskan apa yang ada di otaknya. Mengomentari perkembangan politik, ekonomi dan semua yang sedang terjadi di dunia ini. Bahkan Beliau juga terkadang menuliskan tentang pengalaman-pengalaman pribadinya. Tulisan Dahlan Iskan ini adalah tulisan yang tidak sekedar menulis. Namun ia ada pesan yang tersampaikan. Ia memberikan manfaat.

Di atas dua orang yang saya sebutkan tadi, orang yang betul-betul ingin sekali saya menirunya dalam menulis adalah Syekh Aly Tantawy. Beliau ahli fikih tapi juga sastrawan. Bahkan dinamakan faqihul udaba, atau adibul fukaha. Ahli fikih yang sastrawan atau sastrawan yang ahli fikih. Beliau punya buku diary yang jumlahnya 8 jilid. Diary dengan jumlah 8 jilid tentu penulisnya bukanlah orang sembarangan. Selain 8 jilid diary, beliau juga punya buku-buku lain dengna bermacam judul.

Tentu kalau kita mau meneliti satu persatu kehidupan para ulama yang produktif, jumlah mereka sangatlah banyak. Lihat saja dari jumlah kitab-kitab di maktabah-maktabah yang menghiasi di hampir semua negara. Berjilid-jilid. Mereka bisa menulis seperti itu karena tentu sangat gemar membaca dan membiasakan diri menulis.

Liburan kali ini, seperti yang saya tuliskan kemaren, biar waktu yang saya lalui lebih bermanfaat, insya Allah setiap hari saya akan menulis satu catatan yang berparagraf. Sementara tidak akan saya patok dan batasi tema apa yang harus ditulis. Tujuannya bukan untuk menuliskan sebuah tema tapi melatih membiasakan menulis. Jika bisa berhasil selama 40 hari, maka itu sudah bisa disebut habit. Kebiasaan. Jika kebiasaan itu sudah terpatri maka itu bisa menjadi karakter.

Seperti di sebuah buku yang saya lupa apa judulnya, bahwa ketika kita ingin melakukan perubahan besar, hal pertama dan paling utama yang hendak dan harusnya kita lakukan adalah mengubah kebiasaan-kebiasaan kecil yang kita miliki. Kebiasaan-kebiasaan tersebut jika dilakukan secara istiqamah selama satu-dua tahun maka hasilnya akan sangat luar biasa.

Contohnya seperti ini. jika kita bisa membiasakan satu haru menulis satu catatan dengan ukuran satu halaman, maka selama 40 hari, kita sudah menulis 40 halaman. Satu tahun menjadi 360 halaman. Ia sudah bisa menjadi sebuah buku. Maka liburan ini, Bismillah, kelawan nyebut asmane gusti Allah, saya niati untuk membiasakan menulis. Terakhir, selalulah minta pertolongan pada Allah dan jangan lemah!

Facebook Comments

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *