Kategori
Tak Berkategori

Antarah Ibn Syadad

Ini adalah cerita rakyat Bangsa Arab yang sangat terkenal. Setting tempat dan waktunya adalah tanah hijaz antara Mekah dan Madinah pada abad keenam masehi. Tepatnya ketika zaman Abdul Muthalib, kakek Baginda Nabi SAW.

Tokoh utamanya adalah Antarah Ibn Syadad. Budak hitam buah hati perkawinan Syadad seorang panglima perang yang sangat hebat dengan budak perempuannya (amat) bernama Zabibah.

Mereka hidup di kabilah bani Absin yang setelah kematian khuzaimah (pimpinan kabilah), putra tunggalnya yang bernama Zuhair meneruskan kepemimpinan Ayahandanya bahkan merubah sistem kabilah ini menjadi kerajaan. Zuhair putra khuzaimah ini kemudian menyebut dirinya sebagai raja.

jika kamu membaca cerita kisah ini, akan kau temukan betapa manusia pada zaman itu dipisahkan dengan kasta-kasta yang akal kita di zaman sekarang sangat menentang dan menolaknya. Terutama kerkait dengan budak. Budak pada zaman itu betul-betul diperlakukan mirip dengan binatang. Tak ada kebebasan. Antarah yang merupakan anak seorang amat secara otomatis nasabnya ikut ibunya. Dia menjadi budak dan Syadad tidak mau menganggap dia anaknya. Maka meskipun Antarah ini adalah darah dagingnya, namun secara kasta dia adalah budak dan harus tunduk juga patuh kepada perintah tuannya.

Antara yang budak ini kemudian dalam perjalanan hidupnya mencintai seorang putri bangsawan sangat cantik yang sialnya dia adalah putri dari adik lelakinya Syadad. Dengan bahasa lain, putri dari pamannya sendiri. Sistem kasta yang berlaku di tanah arab waktu itu jelas sangat menolak hubungan budak dengan putri bangasawan meskipun sang putri begitu mencintai dan menyukai budak tersebut.

Kisah Antarah ini beredar antara Antarah yang sangat kuat sekaligus penyair ulung yang dengan kalimat-kalimat indahnya ia mampu menyihir semua orang. Yang dengan keberaniannya dia mampu menguasai dan mengalahakn banyak kabilah. petualangan kisah ini adalah berhasilkah Antarah menikah dengan Ablah? baca bukunya atau kau tonton musalsalnya di youtube. Selamat menikmati!

Ablah binti Malik, wanita yang membuat Antarah menyenandungkan banyak syiir,,
Kategori
Tak Berkategori

Tidak Sepenuhnya Sepakat

Mungkin telah kau dengar atau kau baca ungkapan, “Menulis adalah bekerja untuk keabadian” ungkapan yang dinisbatkan pada Pramoedya Ananta Toer ini tidak sepenuhnya salah dan tidak sepenuhnya benar juga. tergantung dari persepsi mana kita melihatanya. Yang salah adalah ketika ungkapan ini hanya dijadikan sebagai ukuran satu-satunya untuk menjadi kekal dan abadi hingga para penganut madzhab ini begitu bersemangat untuk menulis dan tanpa mengindahkan apa yang ditulis atau kontent tulisan.

Padahal kalau saja kita mau mengamati tokoh-tokoh besar yang melegenda dan abadi, tidak sedikit keabadian mereka bukan dari tulisan. Kau lihat misalnya Jendral Soedirman. Namanya abadi dan jasanya terasa. Sukarno, Hatta, Imam Bonjol dan sederet pahlawan yang kita punya. Semua dari mereka hampir keabadiannya bukan dari tulisan.

Betul memang, menulis bisa mengantarkan penulisnya pada keabadian tapi ia bukan satu-satunya jalan hingga selain penulis seolah tidak akan bisa abadi. Bahkan Kanjeng Nabi Muhammad SAW yang tidak ada keraguan padanya akan keabadiannya bukanlah orang yang menulis dan membaca. seorang yang ummiy yang hingga hari ini abadi dengan ajaran dan prestasi kebaikanya. Bahkan ada seorang yang menuliskan di kaca belakang mobilnya, “Dia tak punya akun facebook, tak punya akun IG, Tweeter juga youtube. Tapi hari ini jumlah followernya mencapai lebih dari 2 miliyar. Ungkapannya dilike, dishare di mana-mana. Bahkan diterjemahkan dan ditafsirkan”.

Dari mulai fans sampai hatternya, semuanya punya perhatian ke sosok muliya ini. Menuliskan sisi kehidupannya dari bermacam arah, menyanjungnya dan memujinya dalam bentuk prosa atau lirik syari. Bagi para pembencinya, perhatian mereka diluapkan dalam distorsi sejarah dan menuduhnya dengan tuduhan-tuduhan keji. Semuanya, baik fans atau hatternya punya perhatian yang tidak sedikit yang membuaynya kekal abadi.

Dan salah satu pesan beliau tentang keabadian manusia adalah tiga perkara yang akan tetap mengalir tanpa putus setelah kematian orang tersebut, yaitu :

  1. Amal jariah
  2. Ilmu yang bermanfaat
  3. Anak shalih yang mendoakan

Tiga perkara inilah yang seharusnya menjadi motivasi kita jika ingin abadi. Menulis hanya sebagai salah satu sarana kecil untuk hinggap di salah satu dari tiga hal yang dipesankan oleh Kanjeng Nabi SAW itu. Tapi ya ngga papa juga ketika ungkapan Pramoedya ini menjadi motivasi untuk semangat menulis. Boleh dan tidak berdosa insya Allah.

Tiga perkara ini, kalau boleh saya sematkan, itu ada pada sosok kyai kita Romo Yai Masruri Abdul Mughni Rahimahullah. Amal jariah yang beliau berikan, hingga hari ini masih menjadiakannya abadi. Pahala akan terus mengalir untuknya karena tanah dan bangungan-bangunag menjulang tinggi yang ada di pondoknya tidak lain adalah berkah dari kepemimpinan Abah Masrur Rahimahullah. Anak-anak yang shalih juga beliau punya yang hari ini sedang mengagantikan peran beliau dalam berkhidmah kepada pondok. Ilmu yang bermanfaat, sangat jelas sekali ribuan santri yang tersebar dari berbagai macam daerah yang sekarang sudah berkiprah di masayarakat bahkan tidak sedikit yang juga mendirikan pondok dan lembaga pendidikan lainnya. Semuanya itu adalah tiga perkara yang membuat Abah Masrur Rahimahullah abadi. Sekarang beliau sedang menikmati apa yang telah ditanam di dunia. Semoga aku termsuk santrinya yang diridhai dan bisa meniru kebaikan-kebaikan seperti beliau.

Lihatkah, kau. keabadaian terus menempel pada Abah Masrur Rahimahullah meskipun beliau tidak menulis. Peninggalan beruapa amal shalihlah yang membuat beliau kekal abadi. Terakhir, selalulah meminta pertolangan pada Allah dan jangan lemah!

Kategori
Tak Berkategori

Mulai Saja Dulu !

Ini adalah kali kesekian saya mencoba membiasakan menulis di sebuah wadah yang sebenarnya jika diseriusi ia akan banyak memberikan manfaat. Ia bisa menjadi semacam tempat untuk berdiskusi atau sekedar tempat ngeshare pengetahuan atau memberitakan kegiatan atau menyimpan kenangan atau hal-hal lain dari yang penting dan bernilai sampai hal-hal receh yang tak bernilai. Mau bernilai atau tak bernilai, ini kembali pada individu masing-masing.

Ia akan bernilai manakala diisi dengan kontent tulisan yang mengandung gizi berupa informasi atau ilmu. Bahkan kalau dalam konsep agama ia bisa bernilai ukhrawi manakala tulisaan atau kontentnya mengajak kepada pembacanya untuk sadar dan berbuat amal kebaikan.

Motivasi agar kita abadai telah banyak digaungkan oleh para penulis yang hari ini, meskipun mereka telah mati tapi nyatanya mereka masih hidup seolah mereka sedang membersamai kita. Lewat karya tulis itulah mereka abadi. Imam Ghazaly Abu Hamid adalah contoh betapa ia masih membersamai para santri dan orang-orang di berbagai macam belahan dunia hari ini. Padahal beliau hidup pada abad ke-6 H. Tapi lewat ihyanya ia masih mengarahkan dan menyadarkan banyak muslim dari kelalaian dan keterpurukan. Ia hidup di saat ia sudah wafat. Ia abadi.

Menjadi abadi dengan tulisan di zaman sekarang tidak terbatas pada media buku. Salah satu faedah yang bisa kita rasakan adalah dengan tersebarnya sarana yang sangat berlimpah bahkan boleh dikatakan, hari ini kita dibanjiri dengan sarana-sarana tersebut. Sosial media bahkan bisa mengalahkan jumlah pembaca buku. Begini maskudnya. Dengan menulis di sosial media, kemungkinan tulisan kita dibaca oleh banyak orang sangat terbuka lebar sekali. Beberapa alasanya antara lain :

  1. Tulisan di sosial media murah. Kamu tidak harus mebeli sarana untuk bisa membaca tulisan tersebut. Yang kamu butuhkan adalah koneksi internet.
  2. Di sosial media sudah banyak sekali penghuni dan pengunjungnya. jika kita pandai menyajikan tulisan secara menarik dan bagus, ia bisa menjaring banyak pembaca. berbeda dengan media buku. ia bisa dibaca kalalu buku tersebut dibeli dan dimiliki oleh pembaca.
  3. silahkan kamu tambahkan sendiri

Ada hal yang pengin ditambahkan dan dituangkan tapi saya cukupkan sampai di sini dulu. Ini adalah tulisan awal yang semoga bisa berlanjut di tulisan-tulisan selanjutnya. Selalulah minta pertolongan pada Allah ta’ala dan jangan lemah!

Kategori
Tak Berkategori

Halo dunia!

Selamat datang di Blog Malhikdua.