Abah Masrur Rahimahullah dalam Kenangan

Hari ini mushala dan masjid di desa Benda ramai oleh para hufadz yang sedang membacakan hafalan qurannya. Mereka yang tidak menghafalnya menyimak dengan memegang mushaf dan sesekali mengingatkan bacaan yang salah yang dilantunkan para hufadz tadi. Kegiatan ini berlangsung sejak pagi ba’da subuh.

Adalah haul kesepuluh Romo Yai Masruri Abdul Mughni Rahimahullah. Beliau yang wafat dan dimakamkan di tanah haram ini adalah guru, orang tua, kyai, pendidik dan murabbi ruhina. Dari beliau saya banyak mengambil pelajaran. Dari beliau juga saya menjadi tahu betapa ada manusia sudah wafat tapi kebaikan-kebaikannya tetap terus hidup. Belau merupakan salah satu hambaNya yang tetap hidup meski jasadnya sudah terkubur bertahun-tahun.

Saya katakan beliau masih hidup karena memang peninggalannya yang sekarang diwariskan dan dikelola oleh anak dan keturunan beliau menjadi saksi menjulang tinggi bahwa beliau masih ada. Lihatlah bangunan gedung-gedung sekolah dan bangunan asrama yang berlantai-laintai. Tidakkah itu semua bukti beliau masih ada? Tidakkah itu bukti bahwa beliau masih eksis? Jangan dikira sesuatu yang tidak kasat mata maknanya berarti sesuatu tersebut tidak ada. Iya beliau sudah berpindah alam. Beliau tidak lagi mengajar para santrinya. Tapi bukankah dari karakter yang beliau tanamkan dan akhlak yang beliau contohkan, kita masih bisa belajar dari beliau? kita masih bisa menimba ilmu dari beliau?

Di hari haul beliau, izinkan saya menuliskan beberapa mauqif atau kejadia yang pernah saya alami dengan beliau.

Meski bukan santri yang pintar dan dikenal oleh beliau, saya pernah ditegur beliau dan teguran itu membekas hingga sekarang.

Ditegur waktu pada suatu malam ketika para sanrtri berkumpul di masjid annur untuk ngaji sentral, saya dengan salah seorang teman justru pergi ke kantor pondok putri. Tujuan ke kantor pondok putri pada malam-malam sepi di tengah para santri lain mengaji tentu bukan tanpa sebab. Waktu siang saya memang diminta untuk mencarikan anak untuk bisa menulis tulisan di geber untuk acara KBIH sanabil yang sebentar lagi akan berangkat haji. Waktu itu geber yang akan ditulisi berada di komplek putri maka jadilah saya pergi ke sana malam-malam di waktu sepi itu. Tidak dinyana ternyata ada Abah Masrur dan melihat kami yang hendak masuk ke kantor pondok putri tadi. Beliau menanyai kami tentang maksud dan tujuan kenapa malam-malam datang ke kantor pondok putri. Setelah saya jelaskan beliau menasehati agar pengerjaannya jangan di komplek putri. Beliau dnegan halus dan sangat baik menasehati kami. Nasehat orang tua kepada anaknya. Sederhana dan biasa bagi orang lain. Tapi bagi saya yang santri biasa tidak dikenal dan mendapatakn nasehat khusus seperti ini, adalah hal yang luar biasa dan tidak terlupakan. Buktinya sejak kejadian itu, seudah lebih dari 10 tahun saya masih mengingatnya.

Kejadian kedua adalah ditegur karena kuku tanganku yang panjang. Dan sejak itu hingga hari ini, alhamdulillah saya termasuk yang tidak suka kalau ada kuku yang panjang. Segera dipotong.

Waktu itu entah apa acaranya di dalam gor, yang jelas setelah acara selesai semua santri menyalami Abah Yai. Kita ngantri panjang untuk bisa salaman dan mencium tangan mulia beliau. Dan tibalah giliran saya untuk salim dan mencium tangan beliau. Di sini beliau melihat kuku panjang di jempolku. Beliau dnegan sangat halus menasehati, “Kukunya dipotong ya” hanya itu kalam beliau. Tapi yang segitu itu, kini setelah lebih dari 10 tahun saya masih mengingatnya.

Bercerita dan menceritakan tentan sosok kyai kita Romo Yai Masruri Rahimahullah tidak ada habisnya. Kebaikan-kebaikan yang beliau tanam dan sebarkan kini sudah sangat bisa dirasakan buahnya.

Sebagai generasi yang beliau didik, saya dan semua santri alhikmah hendaknya mampu dan bisa mengambil pelajaran dari sosok Abah Masrur. Belaiau adalah orang yang hidupnya diwakafkan untuk mendidik santri dan melayaninya. Hendaknya kita bisa ikut berperan meneruskan perjuangan beliau di jalur yang sama yaitu jalur pendidikan.

Semoga,,,,,

Facebook Comments

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *